TUGAS BESAR: KONTROL RUMAH KACA UNTUK TANAMAN STRAWBERRY
KONTROL RUMAH KACA UNTUK TANAMAN
STRAWBERRY
(Sensor Soil Moisture, Vibration,
LM35, Touch, PIR, dan Sensor Kelembaban Udara HIH)
Pada era modern saat ini, pertanian
konvensional mulai bertransformasi menjadi pertanian berbasis teknologi
digital. Salah satu teknologi yang mulai banyak diterapkan
adalah otomatisasi rumah kaca (greenhouse automation), yang memungkinkan
pengendalian lingkungan tumbuh tanaman secara cerdas dan efisien tanpa perlu
intervensi manual secara terus-menerus. Salah satu komoditas yang memerlukan
kondisi lingkungan yang dikontrol ketat adalah melon, yang sangat sensitif
terhadap kelembapan tanah, suhu udara, serta serangan hama.
Dalam proyek ini, kami merancang
sebuah sistem otomatisasi rumah kaca untuk budidaya melon, yang
memanfaatkan rangkaian digital, sensor kelembapan, logika gerbang, dan
sistem aktuator. Rangkaian ini terdiri dari tiga sistem utama, yaitu:
- Sistem
Deteksi Hama dan Kelembapan Udara, yang berfungsi untuk mendeteksi
keberadaan hama di sekitar tanaman menggunakan sensor gerak, serta
memantau kelembapan udara dengan sensor kelembapan. Sistem ini secara
otomatis mengaktifkan penyemprot hama atau humidifier jika
kondisi udara terlalu kering.
- Sistem
Kontrol Kelembaban Tanah, yang bekerja berdasarkan sensor kelembapan
tanah. Ketika tanah terdeteksi kering, sistem ini akan memicu pompa
air otomatis untuk menjaga kadar air yang ideal bagi pertumbuhan
melon.
- Sistem
Pengaturan Pintu Otomatis dan Pemupukan Otomatis, yang mengatur bukaan
pintu rumah kaca berdasarkan kondisi tertentu (seperti suhu atau waktu),
serta mengaktifkan sistem pemupukan sesuai kebutuhan atau secara berkala.
Seluruh sistem dirancang
menggunakan komponen logika digital seperti gerbang AND, OR,
NOT, NAND, serta sensor analog/digital dan transistor sebagai saklar
elektronik. Selain itu, digunakan 7-segment display untuk menampilkan
status sistem secara real-time dan flip-flop sebagai penyimpan status
logika.
Tujuan utama dari proyek ini adalah
untuk menerapkan konsep dasar sistem digital pada penerapan nyata di
bidang pertanian cerdas (smart farming), sekaligus mendukung efisiensi
sumber daya seperti air dan pupuk, serta meminimalisir intervensi manusia
dalam pengendalian lingkungan tanaman.
Melalui simulasi ini, diharapkan
mahasiswa mampu memahami bagaimana logika digital dan sistem kontrol dapat
diintegrasikan dengan teknologi sensor untuk menciptakan solusi pertanian yang
modern dan adaptif terhadap perubahan lingkungan.
1. Mengetahui bentuk rangkaian dari budidaya tanaman melon di rumah kaca
2. Mengetahui prinsip kerja dari sensor yang digunakan
3. Mengetahui aplikasi sensor yang digunakan
Alat
1. Voltmeter DC
Spesifikasi:
- Rentang
pengukuran: Ini mengacu pada rentang tegangan yang dpaat diukur oleh
voltmeter. Misalkan, voltmeter mungkin memiliki rentang pengukuran antara
0 hingga 10 Volt atau 0 hingga 1000 Volt
- Akurasi: Ini
adalah tingkat ketepatan voltmeter dalam mengukur tegangan. Akurasi
biasanya dinyatakan dalam persentase kesalahan maksimum. Sebagai contoh,
voltmeter mungkin memiliki akurasi ±1% yang berarti kesalahan maksimum
yang mungkin terjadi adalah 1% dari nilai yang diukur.
- Resolusi: Resolusi
mengacu pada jumlah digit yang ditampilkan pada voltmeter. Resolusi yang
lebih tinggi berarti voltmeter dapat menampilkan angka yang lebih rinci.
Sebagai contoh, voltmeter dengan resolusi 3 digit dapat menampilkan angka
hingga tiga angka di belakang koma.
- Impedansi
input: Ini adalah resistansi internal voltmeter terhadap arus listrik
yang melewati alat. Impedansi input yang lebih tinggi pada voltmeter
memungkinkan pengukuran tegangan yang lebih akurat tanpa mengganggu
sirkuit yang sedang diukur.
- Jenis
input: Voltmeter dapat dirancang untuk mengukur tegangan searah (DC)
atau tegangan bolak-balik (AC). Beberapa voltmeter juga dapat mengukur
kedua jenis tegangan.
2. Battery
Spesifikasi dan Pinnout Baterai:
- Input
voltage: ac 100~240v / dc 10~30v
- Output
voltage: dc 1~35v
- Max.
Input current: dc 14a
- Charging
current: 0.1~10a
- Discharging
current: 0.1~1.0a
- Balance
current: 1.5a/cell max
- Max.
Discharging power: 15w
- Max.
Charging power: ac 100w / dc 250w
- Jenis
batre yg didukung: life, lilon, lipo 1~6s, lihv 1-6s, pb 1-12s, nimh, cd
1-16s
- Ukuran:
126x115x49mm
- Berat:
460gr
3. Power
Spesifikasi:
- Daya
listrik (Power supply): Ini mengacu pada daya yang diberikan oleh sumber
listrik ke peralatan elektronik. Daya ini diukur dalam watt (W).
Spesifikasi daya listrik mencakup tegangan input yang diperlukan (misalnya
110V atau 220V AC) dan frekuensi (misalnya 50Hz atau 60Hz).
- Konsumsi
daya (Power consumption): Ini adalah jumlah daya yang dikonsumsi oleh
peralatan elektronik saat beroperasi. Konsumsi daya juga diukur dalam watt
(W) dan umumnya dicantumkan dalam spesifikasi produk. Informasi ini
membantu untuk mengetahui berapa banyak daya yang diperlukan oleh
peralatan tersebut dan mempengaruhi kebutuhan daya listrik yang
dibutuhkan.
- Daya
output (Power output): Jika Anda merujuk pada peralatan yang menghasilkan
daya, seperti power amplifier atau power bank, spesifikasi power output
akan memberikan informasi tentang daya yang dihasilkan oleh perangkat
tersebut. Ini juga diukur dalam watt (W) dan mungkin mencakup spesifikasi
daya maksimum dan daya kontinu yang dapat dihasilkan.
Bahan
1. Sensor Soil Moisture
Spesifikasi
2. Sensor LM35
Sensor Suhu LM35 digunakan untuk
mendeteksi suhu runagan dengan output sebesar 10 mV/Celcius.
Spesifikasi Sensor suhu IC
LM35 :
- Memiliki
sensitivitas suhu, dengan faktor skala linier antara tegangan dan suhu 10
mVolt/ºC, sehingga dapat dikalibrasi langsung dalam celcius.
- Memiliki
ketepatan atau akurasi kalibrasi yaitu 0,5ºC pada suhu25ºC
- Memiliki
jangkauan maksimal operasi suhu antara -55 ºC sampai +150 ºC.
- Bekerja
pada tegangan 4 sampai 30 volt. Memiliki arus rendah yaitu kurang dari 60
µA.
- Memiliki
pemanasan sendiri yang rendah (low-heating) yaitu kurang dari 0,1 ºC pada
udara diam.
- Memiliki
impedansi keluaran yang rendah yaitu 0,1 W untuk beban 1 mA. Memiliki
ketidaklinieran hanya sekitar ± ¼ ºC.
3. Vibration Sensor
Spesifikasi :
- Vsuplai
: DC 3.3V-5V
- Arus
: 15mA
- Sensor
: SW-420 Normally Closed
- Output
: digital
- Dimensi
: 3,8 cm x 1,3 cm x 0,7 cm
- Berat
: 10 gr
4. Sensor PIR
Spesifikasi:
- Input
Voltage: DC 4.5-20V
- Static
current: 50uA
- Output
signal: 0,3V (Output high when motion detected)
- Sentry
Angle: 110 degree
- Sentry
Distance: max 6/7 m
- Shunt
for setting overide trigger: H - Yes, L - No
5. Touch Sensor
Spesifikasi:
- Konsumsi
daya yang rendah
- Bisa
menerima tegangan dari 2 ~ 5.5V DC
- Dapat
menggantikan fungsi saklar tradisional
- Dilengkapi
4 lobang baut untuk memudahkan pemasangan
- Tegangan
kerja : 2v s/d 5.5v (optimal 3V)
- Output
high VOH : 0.8 VCC (typical)
- Output
low VOL : 0.3 VCC (max)
- Arus
Output Pin Sink (@ VCC 3V, VOL 0.6V) : 8 mA
- Arus
Output pin pull-up (@ VCC=3V, VOH=2.4V) : 4 mA
- Waktu
respon (low power mode): max 220 ms
- Waktu
respon (touch mode): max 60 ms
- Ukuran:
24 mm x 24 mm x 7.2 mm
6. Sensor Kelembaban Udara (DHT11)
Spesifikasi:
7. IC 74247
Spesifikasi:
8. IC 4013
Spesifikasi:
9. Potensiometer
Spesifikasi:
- Nilai
Resistansi: Spesifikasi ini mencantumkan nilai resistansi potensiometer.
Nilai resistansi dapat bervariasi, misalnya, potensiometer 10K memiliki
resistansi 10.000 ohm (10 kiloohm). Nilai resistansi ini menentukan
rentang resistansi yang dapat disesuaikan oleh potensiometer.
- Toleransi:
Toleransi resistansi mengacu pada kisaran persentase di mana nilai
resistansi potensiometer dapat bervariasi dari nilai yang ditentukan.
Misalnya, jika potensiometer memiliki toleransi ±10%, maka nilai
resistansi yang sebenarnya dapat berbeda hingga 10% dari nilai yang
ditentukan.
- Daya
nominal: Ini adalah daya maksimum yang dapat ditangani oleh potensiometer
tanpa merusak komponen. Daya biasanya diukur dalam watt (W) dan memberikan
gambaran tentang seberapa besar potensiometer dapat menangani arus listrik
tanpa mengalami overheating atau kerusakan.
- Jenis
Potensiometer: Ada beberapa jenis potensiometer yang tersedia, termasuk
potensiometer linier dan potensiometer logaritmik (log potensiometer).
Jenis potensiometer ini memiliki kurva resistansi yang berbeda saat
putaran atau penggeseran digunakan.
- Jumlah
Putaran: Potensiometer dengan lebih dari satu putaran memberikan presisi
yang lebih tinggi dalam mengatur resistansi. Jumlah putaran biasanya
dinyatakan dalam putaran lengkap atau putaran parsial (misalnya, 1
putaran, 10 putaran, 270 derajat, dll).
10. Transistor
Spesifikasi:
11. Relay
Spesifikasi:
Konfigurasi:
12. Motor DC
Spesifikasi:
13. Op Amp
Spesifikasi:
14. Gerbang AND
Spesifikasi:
- Catu
daya : 3 V - 15 V
- Fungsi
: Quad 2-Input AND Gate
- Propagation
delay : 55 ns
- Level
tegangan I/O : CMOS
- Kemasan
: DIP 14-pin
15. Inverter (Not)
Spesifikasi:
16. Dioda
Spesifikasi:
- Tegangan
sebalik (Reverse Voltage): Ini adalah tegangan maksimum yang dapat
diterapkan pada dioda dalam arah sebalik (reverse direction) tanpa
menyebabkan kerusakan. Jika tegangan sebalik melebihi spesifikasi ini,
dioda dapat mengalami breakdown dan mengalirkan arus yang signifikan dalam
arah sebalik.
- Tegangan
maju (Forward Voltage): Tegangan maju adalah tegangan yang diperlukan
untuk mengaktifkan dioda dan menyebabkan aliran arus melalui dioda dalam
arah maju. Tegangan maju bervariasi tergantung pada jenis dan bahan dioda,
seperti dioda silikon memiliki tegangan maju sekitar 0,6 hingga 0,7 volt,
sementara dioda germanium memiliki tegangan maju sekitar 0,2 hingga 0,3
volt.
- Arus
maju maksimum (Forward Current): Ini adalah arus maksimum yang dapat
dialirkan melalui dioda dalam arah maju tanpa menyebabkan kerusakan.
Melebihi spesifikasi ini dapat menyebabkan pemanasan berlebih pada dioda
dan mengakibatkan kegagalan.
- Waktu
pemulihan (Recovery Time): Ini adalah waktu yang diperlukan untuk dioda
untuk beralih dari kondisi berhenti (reverse bias) ke kondisi aktif
(forward bias) setelah tegangan sebalik dihilangkan. Waktu pemulihan
mempengaruhi kemampuan dioda untuk digunakan dalam aplikasi berfrekuensi
tinggi.
- Daya
dissipasi (Power Dissipation): Daya dissipasi adalah daya maksimum yang
dapat diserap oleh dioda tanpa menyebabkan kerusakan. Daya dissipasi
biasanya diukur dalam watt dan tergantung pada kemampuan dioda untuk
menyerap panas.
17. Ground
18. Switch atau Button
Spesifikasi:
19. LED
Spesifikasi:
1. Sensor Soil Moisture
Soil Moisture Sensor merupakan
module untuk mendeteksi kelembaban tanah, yang dapat diakses menggunakan
microcontroller seperti arduino.Sensor kelembaban tanah ini dapat dimanfaatkan
pada sistem pertanian, perkebunan, maupun sistem hidroponik mnggunakan
hidroton.
Soil Moisture Sensor dapat
digunakan untuk sistem penyiraman otomatis atau untuk memantau kelembaban tanah
tanaman secara offline maupun online. Sensor yang dijual pasaran mempunyai 2
module dalam paket penjualannya, yaitu sensor untuk deteksi kelembaban, dan
module elektroniknya sebagai amplifier sinyal.
Jika menggunakan pin Digital Output
maka keluaran hanya bernilai 1 atau 0 dan harus inisalisasi port digital
sebagai Input (pinMode(pin, INPUT)). Sedangkan jika menggunkan pin Analog
Output maka keluaran yang akan muncul adalah sebauah angka diantara 0 sampai
1023 dan inisialisasi hanya perlu menggunkan analogRead(pin).
CARA KERJA SENSOR
Pada saat diberikan catudaya dan disensingkan pada tanah, maka
nilai Output Analog akan berubah sesuai dengan kondisi kadar air
dalam tanah.
Pada saat kondisi tanah:
- Basah
: tegangan output akan turun
- Kering
: tegangan output akan naik
Tegangan tersebut dapat dicek
menggunakan voltmeter DC. Dengan pembacaan pada pin ADC pada
microcontroller dengan tingkat ketelitian 10 bit, maka akan terbaca nilai dari
range 0 – 1023. Sedangkan untuk Output Digital dapat diliat pada
nyala led Digital output menyala atau tidak dengan mensetting nilai ambang pada
potensiometer.
- Kelembaban
tanah melebihi dari nilai ambang maka led akan padam
- Kelembaban
tanah kurang dari nilai ambang maka led akan menyala
Pinout:
Grafik Respon:
2. Sensor LM35
Sensor suhu LM35 adalah komponen elektronika yang memiliki fungsi untuk mengubah besaran suhu menjadi besaran listrik dalam bentuk tegangan. Sensor Suhu LM35 yang dipakai dalam penelitian ini berupa komponen elektronika elektronika yang diproduksi oleh National Semiconductor. LM35 memiliki keakuratan tinggi dan kemudahan perancangan jika dibandingkan dengan sensor suhu yang lain, LM35 juga mempunyaikeluaran impedansi yang rendah dan linieritas yang tinggi sehingga dapat dengan mudah dihubungkan dengan rangkaian kendali khusus serta tidak memerlukan penyetelan lanjutan.
IC LM 35 ini tidak memerlukan
pengkalibrasian atau penyetelan dari luar karena ketelitiannya sampai lebih
kurang seperempat derajat celcius pada temperature ruang. Jangka sensor mulai
dari – 55°C sampai dengan 150°C, IC LM35 penggunaannya sangat mudah, difungsikan
sebagai kontrol dari indicator tampilan catu daya terbelah. IC LM 35 dapat
dialiri arus 60 μ A dari supplay sehingga panas yang ditimbulkan
sendiri sangat rendah kurang dari 0 ° C di dalam suhu ruangan. Untuk mendeteksi
suhu digunakan sebuah sensor suhu LM35 yang dapat dikalibrasikan langsung dalam
C (celcius), LM35 ini difungsikan sebagai basic temperature sensor.
Prinsip Kerja LM35 :
Sensor LM35 bekerja
dengan mengubah besaran suhu menjadi besaran tegangan. Tegangan
ideal yang keluar dari LM35 mempunyai perbandingan 100°C setara dengan 1 volt.
Sensor ini mempunyai pemanasan diri (self heating) kurang dari 0,1°C, dapat dioperasikan
dengan menggunakan power supply tunggal dan dapat dihubungkan antar muka
(interface) rangkaian control.
Sensor suhu LM35 mampu melakukan
pengukuran suhu dari suhu -55ºC hingga +150ºC dengan toleransi kesalahan
pengukuran ±0.5ºC.
Dilihat dari tipenya range suhu
dapat dilihat sebagai berikut :
- LM35,
LM35A -> range pengukuran temperature -55ºC hingga +150ºC.
- LM35C,
LM35CA -> range pengukuran temperature -40ºC hingga +110ºC.
- LM35D
-> range pengukuran temperature 0ºC hingga +100ºC.
Kelebihan LM 35 :
- Rentang
suhu yang jauh, antara -55 sampai +150ºC
- Low
self-heating, sebesar 0.08 ºC
- Beroperasi
pada tegangan 4 sampai 30 V
- Tidak
memerlukan pengkondisian sinyal
Kekurangan LM 35:
- Membutuhkan
tegangan untuk beroperasi.
Pinout:
Grafik:
3. Vibration Sensor
Pinout:
Vibration sensor adalah perangkat
yang dapat mengukur jumlah dan frekuensi getaran yang terdapat pada sebuah
sistem, mesin dan beberapa perangkat tertentu. Pengukuran tersebut bisa
digunakan untuk melakukan pendeteksian pada masalah lain yang terdapat pada
sebuah aset dan melakukan prediksi pada kerusakan yang akan terjadi di masa
mendatang.
Grafik respon:
4. Sensor PIR
Sensor PIR atau disebut juga
dengan Passive Infra Red merupakan sensor yang digunakan untuk
mendeteksi adanya pancaran sinar infra merah dari suatu object. Sesuai dengan
namanya sensor PIR bersifat pasif, yang berarti sensor ini tidak memancarkan
sinar infra merah melainkan hanya dapat menerima radiasi sinar infra merah dari
luar. Sensor PIR terdiri dari beberapa bagian yaitu :
- Fresnel
Lens -->Lensa
Fresnel pertama kali digunakan pada tahun 1980an. Digunakan sebagai lensa
yang memfokuskan sinar pada lampu mercusuar. Penggunaan paling luas pada
lensa Fresnel adalah pada lampu depan mobil, di mana mereka membiarkan
berkas parallel secara kasar dari pemantul parabola dibentuk untuk
memenuhi persyaratan pola sorotan utama.
- IR
Filter -->IR Filter dimodul sensor PIR ini mampu menyaring panjang
gelombang sinar infrared pasif antara 8 sampai 14 mikrometer, sehingga
panjang gelombang yang dihasilkan dari tubuh manusia yang berkisar antara
9 sampai 10 mikrometer ini saja yang dapat dideteksi oleh sensor. Sehingga
Sensor PIR hanya bereaksi pada tubuh manusia saja.
- Pyroelectric
Sensor -->Seperti
tubuh manusia yang memiliki suhu tubuh kira-kira 32 derajat celcius, yang
merupakan suhu panas yang khas yang terdapat pada lingkungan. Pancaran
sinar inframerah inilah yang kemudian ditangkap oleh Pyroelectric
sensor yang merupakan inti dari sensor PIR ini sehingga
menyebabkan Pyroelectic sensor yang terdiri dari galium
nitrida, caesium nitrat dan litium tantalate menghasilkan
arus listrik.
- Amplifier
-->Sebuah sirkuit amplifier yang ada menguatkan arus yang masuk pada
material pyroelectric.
- Komparator-->Setelah
dikuatkan oleh amplifier kemudian arus dibandingkan oleh komparator
sehingga mengahasilkan output.
Sensor PIR memiliki jangkauan jarak
yang bervariasi, tergantung karakteristik sensor. Proses penginderaan sensor
PIR dapat digambarkan sebagai berikut:
Sensor PIR memiliki jangkauan jarak
yang bervariasi, tergantung karakteristik sensor. Proses penginderaan sensor
PIR dapat digambarkan sebagai berikut:
Jangkauan Sensor PIR
Grafik respon:
Pinout:
5. Touch Sensor
Touch Sensor atau Sensor Sentuh
adalah sensor elektronik yang dapat mendeteksi sentuhan
Pinout:
Garfik respon:
6. Sensor Kelembaban Udara (DHT11)
Sensor kelembaan adalah suatu alat
ukur yang digunakan untuk membantu dalam proses pengukuran atau pendifinisian
yang suatu kelembaban uap air yang terkandung dalam udara.
Pinout:
Grafik:
7. IC 74247
Pinout:
Spesifikasi:
Tabel kebenaran:
8. IC 4013
Pinout:
Spesifikasi:
Fungsi utama IC 4013 adalah untuk
menyimpan data biner dan mengontrol waktu sinyal input dan outputnya. Berikut
adalah fitur dan fungsi utama dari IC 4013:
1. Flip-Flop Tipe-D Ganda: IC 4013
berisi dua flip-flop tipe-D independen dalam satu paket.
2. Penyimpanan Data: Setiap
flip-flop dapat menyimpan satu bit data (baik logika tinggi atau logika rendah)
berdasarkan inputnya.
Keluaran Q dan Q': Setiap flip-flop
memiliki dua keluaran:
- Q:
Output normal dari flip-flop.
- Q':
Output komplemen (terbalik) dari flip-flop.
3. Reset (R) dan Set (S) Input: IC
4013 juga menyediakan input asinkron opsional untuk mengatur ulang dan mengatur
output flip-flop. Masukan ini memungkinkan kontrol manual dari keadaan keluaran
terlepas dari sinyal clock.
4. Tegangan Pasokan: Biasanya 5V
- IC
beroperasi dengan tegangan suplai sekitar 5 volt, yang umum untuk logika
CMOS.
5. Jenis Paket: DIP (Dual In-Line
Package)
- IC
4013 umumnya tersedia dalam paket DIP, yang terdiri dari bodi berbentuk
persegi panjang dengan dua baris pin.
IC 4013 banyak digunakan dalam
rangkaian digital untuk aplikasi seperti penyimpanan data, sinkronisasi,
pembagian frekuensi, dan logika sekuensial. Penting untuk berkonsultasi dengan
lembar data yang disediakan oleh pabrikan untuk spesifikasi terperinci,
karakteristik kelistrikan, konfigurasi pin, dan pedoman penggunaan yang
direkomendasikan.
Tabel kebenaran:
9. Potensiometer
Pinout:
Pada dasarnya bagian-bagian penting
dalam komponen potensiometer adalah:
- Penyapu
atau disebut dengan wiper
- Element
Resistif
- Terminal
Jenis-jenis Potensiometer
- Potensiometer
Slider, yaitu Potensiometer yang nilai resistansinya dapat diatur
dengan cara menggeserkan Wiper-nya dari kiri ke kanan atau dari bawah ke
atas sesuai dengan pemasangannya. Biasanya menggunakan Ibu Jari untuk
menggeser wiper-nya.
- Potensiometer
Rotary, yaitu Potensiometer yang nilai resistansinya dapat diatur dengan
cara memutarkan Wiper-nya sepanjang lintasan yang melingkar. Biasanya
menggunakan Ibu Jari untuk memutar wiper tersebut. Oleh karena itu,
Potensiometer Rotary sering disebut juga dengan Thumbwheel Potentiometer.
- Potensiometer
Trimmer, yaitu Potensiometer yang bentuknya kecil dan harus menggunakan
alat khusus seperti Obeng (screwdriver) untuk memutarnya. Potensiometer
Trimmer ini biasanya dipasangkan di PCB dan jarang dilakukan
pengaturannya.
Fungsi-fungsi Potensiometer
- Sebagai
pengatur volume pada berbagai peralatan audio/video seperti amplifier,
Tape Mobil, DVD Player
- Sebagai
pengatur tegangan pada rangkaian power supply
- Sebagai
Pembagi tegangan
- Aplikasi
switch TRIAC
- DIgunakan
sebagai JOystick pada Tranduser
- Sebagai
pengendali level sinyal
10. Transistor
Pinout:
Transistor merupakan salah satu
komponen elektronika aktif yang paling sering digunakan dalam rangkaian
elektronika, baik rangkaian elektronika yang paling sederhana maupun yang rumit
dan kompleks. Transistor pada umumnya terbuat dari bahan semikonduktor seperti
Germanium, Silikon, dan Gallium Arsenide.
Transistor adalah sebuah komponen
didalam elektronika yang diciptakan dari bahan-bahan semikonduktor dan memiliki
3 buah kaki. Masing-masing kaki disebut basis, kolektro, dan emitor.
- Emitor
(E) memiliki fungsi untuk menghasilkan elektron atau muatan negatif.
- Kolektor
(C) berperan sebagai saluran bagi muatan negatif untuk keluar dari dalam
transistor.
- Basis
(B) berguna untuk mengatur arah gerak muatan negatif yang keluar dari
transistor melalui kolektor
Berfungsi sebagai penguat, sebagai
sirkuit pemutus dan penyambung arus (switching), stabilisasi tegangan, dan
modulasi sinyal. Selain itu, transistor biasanya juga dapat digunakan
sebagai saklar dalam rangkaian elektronika. Jika ada arus yang cukup besar di
kaki basis, transistor akan mencapai titik jenuh. Pada titik jenuh ini
transistor mengalirkan arus secara maksimum dari kolektor ke emitor sehingga
transistor seolah-olah short pada hubungan kolektor-emitor. Jika arus base
sangat kecil maka kolektor dan emitor bagaikan saklar yang terbuka. Pada
kondisi ini transistor dalam keadaan cut off sehingga tidak ada arus dari
kolektor ke emitor.
Rumus-ruumus transistor:
Konfigurasi Transistor:
Konfigurasi Common Base adalah
konfigurasi yang kaki Basis-nya di-ground-kan dan digunakan bersama untuk INPUT
maupun OUTPUT. Pada Konfigurasi Common Base, sinyal INPUT dimasukan ke
Emitor dan sinyal OUTPUT-nya diambil dari Kolektor, sedangkan kaki
Basis-nya di-ground-kan. Oleh karena itu, Common Base juga sering disebut
dengan istilah “Grounded Base”. Konfigurasi Common Base ini menghasilkan
Penguatan Tegangan antara sinyal INPUT dan sinyal OUTPUT namun tidak
menghasilkan penguatan pada arus.
Konfigurasi Common Collector (CC)
atau Kolektor Bersama memiliki sifat dan fungsi yang berlawan dengan Common
Base (Basis Bersama). Kalau pada Common Base menghasilkan penguatan Tegangan
tanpa memperkuat Arus, maka Common Collector ini memiliki fungsi yang dapat
menghasilkan Penguatan Arus namun tidak menghasilkan penguatan Tegangan.
Pada Konfigurasi Common Collector, Input diumpankan ke Basis Transistor
sedangkan Outputnya diperoleh dari Emitor Transistor sedangkan Kolektor-nya
di-ground-kan dan digunakan bersama untuk INPUT maupun OUTPUT. Konfigurasi
Kolektor bersama (Common Collector) ini sering disebut juga dengan Pengikut
Emitor (Emitter Follower) karena tegangan sinyal Output pada Emitor hampir sama
dengan tegangan Input Basis.
Konfigurasi Common Emitter (CE)
atau Emitor Bersama merupakan Konfigurasi Transistor yang paling sering
digunakan, terutama pada penguat yang membutuhkan penguatan Tegangan dan Arus
secara bersamaan. Hal ini dikarenakan Konfigurasi Transistor dengan Common
Emitter ini menghasilkan penguatan Tegangan dan Arus antara sinyal Input dan
sinyal Output. Common Emitter adalah konfigurasi Transistor dimana kaki Emitor
Transistor di-ground-kan dan dipergunakan bersama untuk INPUT dan OUTPUT. Pada
Konfigurasi Common Emitter ini, sinyal INPUT dimasukan ke Basis dan sinyal
OUTPUT-nya diperoleh dari kaki Kolektor.
Karakteristik Input
Transistor adalah komponen aktif
yang menggunakan aliran electron sebagai prinsip kerjanya didalam bahan. Sebuah
transistor memiliki tiga daerah doped yaitu daerah emitter, daerah basis dan
daerah disebut kolektor. Transistor ada dua jenis yaitu NPN dan PNP. Transistor
memiliki dua sambungan: satu antara emitter dan basis, dan yang lain antara
kolektor dan basis. Karena itu, sebuah transistor seperti dua buah dioda yang
saling bertolak belakang yaitu dioda emitter-basis, atau disingkat dengan
emitter dioda dan dioda kolektor-basis, atau disingkat dengan dioda kolektor.
Bagian emitter-basis dari
transistor merupakan dioda, maka apabila dioda emitter-basis dibias maju maka
kita mengharapkan akan melihat grafik arus terhadap tegangan dioda biasa. Saat
tegangan dioda emitter-basis lebih kecil dari potensial barriernya, maka arus
basis (Ib) akan kecil. Ketika tegangan dioda melebihi potensial barriernya,
arus basis (Ib) akan naik secara cepat.
Pemberian bias
Ada beberapa macam rangkaian
pemberian bias, yaitu:
1. Fixed bias yaitu, arus
bias IB didapat dari VCC yang dihubungkan ke kaki B melewati tahanan R seperti
gambar 58. Karakteristik Output.
2.Self Bias adalah arus input
didapatkan dari pemberian tegangan input VBB seperti gambar 60.
Sebuah transistor memiliki empat
daerah operasi yang berbeda yaitu daerah aktif, daerah saturasi, daerah cutoff,
dan daerah breakdown. Jika transistor digunakan sebagai penguat, transistor
bekerja pada daerah aktif. Jika transistor digunakan pada rangkaian digital,
transistor biasanya beroperasi pada daerah saturasi dan cutoff. Daerah
breakdown biasanya dihindari karena resiko transistor menjadi hancur terlalu
besar.
11. Relay
Relay merupakan komponen
elektronika berupa saklar atau swirch elektrik yang dioperasikan secara listrik
dan terdiri dari 2 bagian utama yaitu Elektromagnet (coil) dan mekanikal
(seperangkat kontak Saklar/Switch). Komponen elektronika ini menggunakan
prinsip elektromagnetik untuk menggerakan saklar sehingga dengan arus
listrik yang kecil (low power) dapat menghantarkan listrik yang
bertegangan lebih tinggi. Berikut adalah simbol dari komponen relay.
Pada dasarnya, Relay terdiri dari 4
komponen dasar yaitu :
- Electromagnet
(Coil)
- Armature
- Switch
Contact Point (Saklar)
- Spring
Gambar dari bagian-bagian relay
Kontak Poin (Contact Point) Relay
terdiri dari 2 jenis yaitu :
- Normally
Close (NC) yaitu kondisi awal sebelum diaktifkan akan selalu berada di
posisi CLOSE (tertutup)
- Normally
Open (NO) yaitu kondisi awal sebelum diaktifkan akan selalu berada di
posisi OPEN (terbuka)
Konfigurasi:
12. Motor DC
Motor Listrik DC atau DC
Motor adalah suatu perangkat yang mengubah energi listrik menjadi energi
kinetik atau gerakan (motion). Motor DC ini juga dapat disebut sebagai Motor
Arus Searah. Seperti namanya, DC Motor memiliki dua terminal dan memerlukan
tegangan arus searah atau DC (Direct Current) untuk dapat menggerakannya. Motor
Listrik DC ini biasanya digunakan pada perangkat-perangkat Elektronik dan
listrik yang menggunakan sumber listrik DC seperti Vibrator Ponsel, Kipas DC
dan Bor Listrik DC.
Prinsip Kerja Motor DC
Terdapat dua bagian utama pada
sebuah Motor Listrik DC,
yaitu Stator dan Rotor. Stator adalah bagian motor
yang tidak berputar, bagian yang statis ini terdiri dari rangka dan kumparan
medan. Sedangkan Rotor adalah bagian yang berputar, bagian Rotor ini
terdiri dari kumparan Jangkar. Dua bagian utama ini dapat dibagi lagi menjadi
beberapa komponen penting yaitu diantaranya adalah Yoke (kerangka
magnet), Poles (kutub motor), Field winding (kumparan medan
magnet), Armature Winding (Kumparan Jangkar), Commutator (Komutator)
dan Brushes (kuas/sikat arang).
Pada prinsipnya motor listrik DC
menggunakan fenomena elektromagnet untuk bergerak, ketika arus listrik
diberikan ke kumparan, permukaan kumparan yang bersifat utara akan bergerak
menghadap ke magnet yang berkutub selatan dan kumparan yang bersifat selatan
akan bergerak menghadap ke utara magnet. Saat ini, karena kutub utara kumparan
bertemu dengan kutub selatan magnet ataupun kutub selatan kumparan bertemu
dengan kutub utara magnet maka akan terjadi saling tarik menarik yang
menyebabkan pergerakan kumparan berhenti.
Untuk menggerakannya lagi, tepat
pada saat kutub kumparan berhadapan dengan kutub magnet, arah arus pada
kumparan dibalik. Dengan demikian, kutub utara kumparan akan berubah menjadi
kutub selatan dan kutub selatannya akan berubah menjadi kutub utara. Pada saat
perubahan kutub tersebut terjadi, kutub selatan kumparan akan berhadap dengan
kutub selatan magnet dan kutub utara kumparan akan berhadapan dengan kutub
utara magnet. Karena kutubnya sama, maka akan terjadi tolak menolak sehingga
kumparan bergerak memutar hingga utara kumparan berhadapan dengan selatan
magnet dan selatan kumparan berhadapan dengan utara magnet. Pada saat ini, arus
yang mengalir ke kumparan dibalik lagi dan kumparan akan berputar lagi karena
adanya perubahan kutub. Siklus ini akan berulang-ulang hingga arus listrik pada
kumparan diputuskan.
Grafik respon:
Pinout:
13. Op Amp
Op-Amp adalah salah satu dari
bentuk IC Linear yang berfungsi sebagai Penguat Sinyal listrik. Sebuah Op-Amp
terdiri dari beberapa Transistor, Dioda, Resistor dan Kapasitor yang
terinterkoneksi dan terintegrasi sehingga memungkinkannya untuk menghasilkan Gain
(penguatan) yang tinggi pada rentang frekuensi yang luas.
Simbol
Konfigurasi Pin:
Karakteristik IC OpAmp
- Penguatan
Tegangan Open-loop atau Av = ∞ (tak terhingga)
- Tegangan
Offset Keluaran (Output Offset Voltage) atau Voo = 0 (nol)
- Impedansi
Masukan (Input Impedance) atau Zin= ∞ (tak terhingga)
- Impedansi
Output (Output Impedance ) atau Zout = 0 (nol)
- Lebar
Pita (Bandwidth) atau BW = ∞ (tak terhingga)
- Karakteristik
tidak berubah dengan suhu
Inverting amplifier
Rumus:
Non Inverting
Rumus:
Komparator
Rumus:
Adder
Rumus:
Bentuk Gelombang
14. Gerbang AND
Gerbang AND akan berlogika 1
apabila semua inputnya berlogika 1, namun bila salah satu atau semua
keluarannya berlogika 0 maka keluarannya berlogika 0.
Perhatikan Tabel kebenaran dibawah untuk menjelaskan gerbang AND
Gerbang AND (IC 4081) memerlukan 2
atau lebih Masukan (Input) untuk menghasilkan hanya 1 Keluaran (Output).
Gerbang AND akan menghasilkan Keluaran (Output) Logika 1 jika semua masukan
(Input) bernilai Logika 1 dan akan menghasilkan Keluaran (Output) Logika 0 jika
salah satu dari masukan (Input) bernilai Logika 0.
Konfigurasi pin :
- Pin
7 adalah suplai negatif
- Pin
14 adalah suplai positif
- Pin
1 & 2, 5 & 6, 8 & 9, 12 & 13 adalah input gerbang
- Pin
3, 4, 10, 11 adalah keluaran gerbang
15. Inverter (Not)
Inverter atau pembalik(NOT) adalah
suatu gerbang yang bertujuan untuk menghasilkan logika output kebalikan dari
logika input Gerbang NOT merupakan gerbang di mana keluarannya akan
selalu berlawanan dengan masukannya. Bila pada masukan diberikan tegangan
,maka transistor akan jenuh dan keluaran akan bertegangan nol. Sedangkan
bila pada masukannya diberi tegangan tertentu, maka transistor akan cut
off, sehingga keluaran akan bertegangan tidak nol.
Adapun simbol dan tabel kebenaran
gerbang Inverter seperti berikut:
16. Dioda
Dioda (Diode) adalah Komponen
Elektronika Aktif yang terbuat dari bahan semikonduktor dan mempunyai fungsi
untuk menghantarkan arus listrik ke satu arah tetapi menghambat arus listrik
dari arah sebaliknya. Oleh karena itu, Dioda sering dipergunakan sebagai
penyearah dalam Rangkaian Elektronika. Dioda pada umumnya mempunyai 2 Elektroda
(terminal) yaitu Anoda (+) dan Katoda (-) dan memiliki prinsip kerja yang
berdasarkan teknologi pertemuan p-n semikonduktor yaitu dapat mengalirkan arus
dari sisi tipe-p (Anoda) menuju ke sisi tipe-n (Katoda) tetapi tidak dapat
mengalirkan arus ke arah sebaliknya.
Berdasarkan
Fungsi Dioda, Dioda dapat dibagi menjadi beberapa jenis, diantaranya:
· Dioda
Penyearah (Dioda Biasa atau Dioda Bridge) yang berfungsi sebagai penyearah arus
AC ke arus DC.
·
Dioda Zener yang berfungsi sebagai pengaman
rangkaian dan juga sebagai penstabil tegangan.
· Dioda
LED yang berfungsi sebagai lampu Indikator ataupun lampu penerangan
· Dioda
Photo yang berfungsi sebagai sensor cahaya
·
Dioda Schottky yang berfungsi sebagai Pengendali
Setiap kode pada dioda menentukan
nilai dioda dengan nlai:
Unutk menentukan arus Zener (Iz),
berlaku persamaan:
Pada grafik terlihat bahwa pada
tegangan dibawah ambang batas tegangan mundur (reverse) sebuah dioda akan
tembus (menghantar) dan tidak bisa menahan lagi. Batas ini disebut dengan area
tegangan breakdown dioda. Kondisi dioda pada area ini adalah tembus atau
menghantar dan tidak menghambat. Kemudian pada level tegangan diantara
tegangan breakdown dan tegangan forward terdapat area tegangan reverse dan
tegangan cut off. Pada area ini kondisi dioda adalah menahan atau tidak
mengalirkan arus listrik.
- Siapkan
komponen yang akan digunakan
- Posisikan
komponen sesuai pada gambar
- Ragkai
semua komponen dengan benar dan tepat
- Untuk
sensor jangan lupa memasukkan code hex, agar sensor dapat berfungsi
- tekan tombol play untuk menjalankan rangkaian
A. KONTROL KELEMBABAN TANAH TANAMAN
Untuk Sensor Soil Moisture,
resistansi yang menjadi acuan adalah 50% dimana saat resistansi diatas 50%
mengindikasikan tanah lembab, sedangkan resistansi dibawah 50% mengindikasikan
tanah kering. Pada Sensor LM35, suhu yang menjadi acuan adalah 36 derajat,
dimana saat suhu diatas 36 derajat dianggap sebagai suhu ideal untuk menyiram
tanaman, sedangkan suhu dibawah 36 derajat dianggap kurang ideal.
Kondisi 1 : Tanah Kering dan Suhu
<= 36 derajat
Pada kondisi ini sensor kelembapan
akan mendeteksi tanah kering yang dilihat pada resistansi 49%, dimana sensor
akan mengeluarkan output tegangan yang tidak stabil sehingga harus diumpankan
terlebih dahulu ke rangkaian penyearah yang mana kita akan mendapatkan tegangan
output dari penyearah sebesar +2,02 V. Tegangan output dari penyearah ini
kemudian diumpankan ke ragkaian op-amp detector non-inverting dengan tegangan
pembanding sebesar +2,07 V, sehingga output dari rangkaian detector bernilai
negative saturasi (-15V) yang kemudian dimasukkan ke kaki B pada IC Decoder
74247 dan juga ke kaki R-S pada D Flip-Flop. Karna input pada kaki R berlogika
0 dan pada kaki S berlogika 1 (melewati inverter) maka D Flip-Flop berada pada
kondisi SET yang artinya output pada kaki Q akan berlogika 1 yang kemudian
dihubungkan ke resistor 10k ohm dan diperoleh output sebesar +0,71 V yang
dihubungkan ke transistor Q5 yang mengaktifkan transistor. Karna transistor Q5
aktif, maka tegangan sebesar +5V pada relay 4 akan mengalir ke kumparan lalu ke
kaki collector dan diumpankan ke kaki emitter lalu ke ground. Karena ada arus
yang melewati kumparan relay 5, maka relay menjadi aktif dan switch berpindah
dari kanan ke kiri sehingga relay 5 dan transistor Q6 terhubung.
Karena suhu yang terbaca oleh
sensor LM35 lebih kecil dari 36 derajat yaitu 35 derajat maka sensor akan
mengeluarkan output +0,35V yang kemudian diumpankan ke kaki positif dari
rangkaian op-amp detector non-inverting sehingga diperoleh output tengangan bernilai
negative saturasi yang dihubungkan ke kaki A pada IC 74257 dan ke resistor 6.
Output pada resistor 6 sebesar -14,8V kemudian dihubungkan ke kaki transistor
Q6 yang menyebabkan transistor tidak aktif sehingga tidak ada arus yang
mengalir dari kaki collector ke emitter. Karena transistor Q6 tidak aktif maka
relay 5 tidak aktif sehingga switch tetap di posisi kanan yang menghubungkan
tegangan +12V ke resistor lalu ke LED kuning dan ke ground. Karena tidak ada
tegangan yang masuk ke motor, maka pomoa air tidak aktif.
Karena input pada kaki A dan B dari
IC 74247 bernilai logika 0, maka pada layar 7-segment akan ditampilkan angka 0
yang artinya “Tanah Kering dan Suhu <= 36 Derajat”
Kondisi 2 : Tanah Kering dan Suhu
>36 derajat
Pada kondisi ini sensor kelembapan
akan mendeteksi tanah kering yang dilihat pada resistansi 49%, dimana sensor
akan mengeluarkan output tegangan yang tidak stabil sehingga harus diumpankan
terlebih dahulu ke rangkaian penyearah yang mana kita akan mendapatkan tegangan
output dari penyearah sebesar +2,02 V. Tegangan output dari penyearah ini
kemudian diumpankan ke ragkaian op-amp detector non-inverting dengan tegangan
pembanding sebesar +2,07 V, sehingga output dari rangkaian detector bernilai
negative saturasi (-15V) yang kemudian dimasukkan ke kaki B pada IC Decoder
74247 dan juga ke kaki R-S pada D Flip-Flop. Karna input pada kaki R berlogika
0 dan pada kaki S berlogika 1 (melewati inverter) maka D Flip-Flop berada pada
kondisi SET yang artinya output pada kaki Q akan berlogika 1 yang kemudian
dihubungkan ke resistor 10k ohm dan diperoleh output sebesar +0,71 V yang
dihubungkan ke transistor Q5 yang mengaktifkan transistor. Karna transistor Q5
aktif, maka tegangan sebesar +5V pada relay 4 akan mengalir ke kumparan lalu ke
kaki collector dan diumpankan ke kaki emitter lalu ke ground. Karena ada arus
yang melewati kumparan relay 5, maka relay menjadi aktif dan switch berpindah
dari kanan ke kiri sehingga relay 5 dan transistor Q6 terhubung.
Karena suhu yang terbaca oleh
sensor LM35 lebih besar dari 36 derajat yaitu 37 derajat maka sensor akan
mengeluarkan output +0,37V yang kemudian diumpankan ke kaki positif dari
rangkaian op-amp detector non-inverting sehingga diperoleh output tengangan bernilai
positive saturasi yang dihubungkan ke kaki A pada IC 74257 dan ke resistor 6.
Output pada resistor 6 sebesar +0,72V kemudian dihubungkan ke kaki transistor
Q6 yang menyebabkan transistor aktif sehingga ada arus yang
mengalir dari kaki collector ke emitter. Karena transistor Q6 aktif maka relay
5 aktif sehingga switch berpindah posisi dari kanan ke kiri yang
menghubungkan tegangan +12V ke motor lalu ke ground. Karena ada tegangan yang
masuk ke motor, maka pomoa air aktif menyiram tanaman.
Karena input pada kaki A berlogika
1 dan B dari IC 74247 bernilai logika 0, maka pada layar 7-segment akan
ditampilkan angka 1 yang artinya “Tanah Kering dan Suhu > 36 Derajat”
Kondisi 3 : Tanah Lembab dan Suhu
<=36
Pada kondisi ini sensor kelembapan
akan mendeteksi tanah lembab yang dilihat pada resistansi 51%, dimana sensor
akan mengeluarkan output tegangan yang tidak stabil sehingga harus diumpankan
terlebih dahulu ke rangkaian penyearah yang mana kita akan mendapatkan tegangan
output dari penyearah sebesar +2,12 V. Tegangan output dari penyearah ini
kemudian diumpankan ke ragkaian op-amp detector non-inverting dengan tegangan
pembanding sebesar +2,07 V, sehingga output dari rangkaian detector bernilai
positive saturasi (+15V) yang kemudian dimasukkan ke kaki B pada IC Decoder
74247 dan juga ke kaki R-S pada D Flip-Flop. Karna input pada kaki R berlogika
1 dan pada kaki S berlogika 0 (melewati inverter) maka D Flip-Flop berada pada
kondisi RESET yang artinya output pada kaki Q akan berlogika 0 yang kemudian
dihubungkan ke resistor 10k ohm dan diperoleh output sebesar 0 V yang
dihubungkan ke transistor Q5 yang meenyebabkan transistor tidak aktif. Karna
transistor Q5 tidak aktif, maka tegangan sebesar +5V pada relay 4 tidak
mengalir ke kumparan. Karena tidak ada arus yang melewati kumparan relay 5,
maka relay tidak aktif dan switch tidak berpindah dari kanan ke kiri sehingga
relay 5 dan transistor Q6 tidak terhubung.
Karena suhu yang terbaca oleh
sensor LM35 lebih kecil dari 36 derajat yaitu 35 derajat maka sensor akan
mengeluarkan output +0,35V yang kemudian diumpankan ke kaki positif dari
rangkaian op-amp detector non-inverting sehingga diperoleh output tengangan bernilai
negative saturasi yang dihubungkan ke kaki A pada IC 74257 dan ke resistor 6.
Output pada resistor 6 sebesar -14,8V kemudian dihubungkan ke kaki transistor
Q6 yang menyebabkan transistor tidak aktif sehingga tidak ada arus yang
mengalir dari kaki collector ke emitter. Karena transistor Q6 tidak aktif maka
relay 5 tidak aktif sehingga switch tetap di posisi kanan yang menghubungkan
tegangan +12V ke resistor lalu ke LED kuning dan ke ground. Karena tidak ada
tegangan yang masuk ke motor, maka pomoa air tidak aktif.
Karena input pada kaki A dan B dari
IC 74247 bernilai logika 0, maka pada layar 7-segment akan ditampilkan angka 2
yang artinya “Tanah Lembab dan Suhu <= 36 Derajat”
Kondisi 4: Tanah Lembab dan Suhu
>36 Derajat
Pada kondisi ini sensor kelembapan
akan mendeteksi tanah lembab yang dilihat pada resistansi 51%, dimana sensor
akan mengeluarkan output tegangan yang tidak stabil sehingga harus diumpankan
terlebih dahulu ke rangkaian penyearah yang mana kita akan mendapatkan tegangan
output dari penyearah sebesar +2,12 V. Tegangan output dari penyearah ini
kemudian diumpankan ke ragkaian op-amp detector non-inverting dengan tegangan
pembanding sebesar +2,07 V, sehingga output dari rangkaian detector bernilai
positive saturasi (+15V) yang kemudian dimasukkan ke kaki B pada IC Decoder
74247 dan juga ke kaki R-S pada D Flip-Flop. Karna input pada kaki R berlogika
1 dan pada kaki S berlogika 0 (melewati inverter) maka D Flip-Flop berada pada
kondisi RESET yang artinya output pada kaki Q akan berlogika 0 yang kemudian
dihubungkan ke resistor 10k ohm dan diperoleh output sebesar 0 V yang
dihubungkan ke transistor Q5 yang meenyebabkan transistor tidak aktif. Karna
transistor Q5 tidak aktif, maka tegangan sebesar +5V pada relay 4 tidak
mengalir ke kumparan. Karena tidak ada arus yang melewati kumparan relay 5,
maka relay tidak aktif dan switch tidak berpindah dari kanan ke kiri sehingga
relay 5 dan transistor Q6 tidak terhubung.
Karena suhu yang terbaca oleh
sensor LM35 lebih besar dari 36 derajat yaitu 37 derajat maka sensor akan
mengeluarkan output +0,37V yang kemudian diumpankan ke kaki positif dari
rangkaian op-amp detector non-inverting sehingga diperoleh output tengangan bernilai
positive saturasi yang dihubungkan ke kaki A pada IC 74257 dan ke resistor 6.
Output pada resistor 6 sebesar +0,66V kemudian dihubungkan ke kaki transistor
Q6 yang menyebabkan transistor tidak aktif sehingga tidak ada arus yang
mengalir dari kaki collector ke emitter. Karena transistor Q6 tidak aktif maka
relay 5 juga tidak aktif sehingga switch tetap di kanan yang menghubungkan
tegangan +12V ke resistor lalu ke LED kuning dan ke ground. Karena tidak ada
tegangan yang masuk ke motor, maka pomoa air tidak aktif.
Karena input pada kaki A berlogika
1 dan B dari IC 74247 bernilai logika 1, maka pada layar 7-segment akan
ditampilkan angka 3 yang artinya “Tanah Lembab dan Suhu > 36 Derajat”.
B. PENDETEKSI ADANYA HAMA DAN
KEADAAN KELEMBABAN UDARA
Pada Sistem Pendeteksi Adanya hama
dan Kelembaban udara dirumahkaca, kita menggunakan beberapa sensor taitu Sensor
Vibration yang digunakan untuk mengetahui keberadaan dari hama yang ada pada
tanaman (biasanya dapat melalui getaran yang ditimbulkan oleh hama tersebut)
dan Sensor Kelembaban Udara HIH 5030 Yang berfungsi untuk mendeteksi kelembaban
udara disekitar, dimana akan digunakan humidifier dan dehumidifier untuk
mengatur kelembaban dari ruangan tersebut
Kondisi 1 : Ketika Sensor Vibration
Aktif : Ketika terdapat hama yang memungkinkan mengganggu proses
pertumbuhan dari tanaman melon, maka vibration akan mendeteksi pergerakan hama
melalui getaran yang mereka munculkan saat bergerak maka sensor vibration akan
aktif dan Vout sensor akan mengeluarkan tegangan dan arus akan mengalir ke
OPAMP dimana pada rangkaian ini OPAMP bekerja dengan prinsip Non Inverting
Amplifier, dimana inputnya 5V dan didapatkan outputnya 4.01 V. Setelah ini akan
diumpankan menuju input A pada Demux 1 to 4 line 74LS139, dimana sesuai dengan
prinsip demux yang inputannya satu sinyal akan dipecah jadi beberapa sinyal,
berdasarkan tabel kebenaran saat input A bernilai 1 dan B don’t care, maka
output yang aktif adalah Y0 dan Y2, maka kedua output tersebut dengan half
adder akan dihubungkan ke IC gerbang AND menjadi satu output, lalu diumpankan
menuju R11 lalu masuk ke kaki base transistor, transistor bekerja dengan fixed
bias, terlihat pada rangkaian nilai VBE nya adalah 0.8V maka power dapat
mengalirkan arus ke relay karena syarat nilai VBE adalah besar dari 0.7V.
karena arus mengalir pada relay, maka relay akan berpindah posisi dan arus
mengalir pada baterai dan motor bergerak. Pada rangkaian ini motor berperan
sebagai Alat penyemprot bubuk neem sebagai pestisida alami untuk membasmi hama
terutama lalat buah
Kondisi 2 : Ketika Sensor HIH
memiliki nilai >70 : Saat kelembaban udara yang terbaca oleh sensor
adalah diatas 70 (pada percobaan diambil 76), maka akan dihasilkan tegangan
oleh Vout sensor sebesar 3.16V lalu akan diumpankan menuju kaki Non Inverting
dari Amplifier U10 dan kaki Inverting dari Amplifier U21, pada Amplifier U10
OPAMP bekerja dengan prinsip detector non inverting dengan input 1.1V dan Vref
nya adalah 0.22V, dihasilkan output sebesar 4.03V, namun pada Amplifier U21
tidak dihasilkan output. Pada output OPAMP U10, tegangan lalu diumpankan menuju
input B pada Demux 1 to 4 line 74LS139, dimana sesuai dengan prinsip demux yang
inputannya satu sinyal akan dipecah jadi beberapa sinyal, berdasarkan tabel
kebenaran saat input B bernilai 1 dan A don’t care, maka output yang aktif
adalah Y0 dan Y1, maka kedua output tersebut dengan half adder akan dihubungkan
ke IC gerbang AND menjadi satu output, lalu diumpankan menuju R15 lalu masuk ke
kaki base transistor, transistor bekerja dengan fixed bias, terlihat pada
rangkaian nilai VBE nya adalah 0.8V maka power dapat mengalirkan arus ke relay
karena syarat nilai VBE adalah besar dari 0.7V. karena arus mengalir pada
relay, maka relay akan berpindah posisi dan arus mengalir pada baterai dan
motor bergerak. Pada rangkaian ini motor berperan sebagai dehumidifier yang
berfungsi untuk menurunkan kelembaban udara dikarenakan terlalu tingginya
kelembaban udara pada ruangan rumah kaca
Kondisi 3 : Ketika Sensor HIH
memiliki nilai <50 : Saat kelembaban udara yang terbaca oleh sensor
adalah dibawah 50 (pada percobaan diambil 40), maka akan dihasilkan tegangan
oleh Vout sensor sebesar 1.94V lalu akan diumpankan menuju kaki Non Inverting
dari Amplifier U10 dan kaki Inverting dari Amplifier U21, pada Amplifier U21
OPAMP bekerja dengan prinsip detector inverting dengan input 2.3V dan Vref nya
adalah 0.18V, dihasilkan output sebesar 3.98V, namun pada Amplifier U10 tidak
dihasilkan output. Pada output OPAMP U21 tegangan diumpankan menuju R4 lalu
masuk ke kaki base transistor, transistor bekerja dengan fixed bias, terlihat
pada rangkaian nilai VBE nya adalah 0.78V maka power dapat mengalirkan arus ke
relay karena syarat nilai VBE adalah besar dari 0.7V. karena arus mengalir pada
relay, maka relay akan berpindah posisi dan arus mengalir pada baterai dan
motor bergerak. Pada rangkaian ini motor berperan sebagai humidifier yang
berfungsi untuk meningkatkan kelembaban udara dikarenakan rendahnya kelembaban
udara pada ruangan rumah kaca
C. SISTEM PENGATURAN PINTU OTOMATIS
RUMAH KACA DAN PEMUPUKAN OTOMATIS
Pada sistem pengaturan pintu
otomatis, kita menggunakan sensor PIR dimana sensor PIR dapat mendeteksi
keberadaan sesorang yang melewati sensor tersebut melalui radiasi inframerah
yang diterimanya. Sensor PIR ini diletakkan diatas pintu masuk. Dan untuk
pemupukan otomatis kita akan menggunakan sensor touch dimana sensor ini akan
aktif apabila kita sentuh yang terletak di samping pintu, dimana saat kita
sentuh maka pupuk cair otomatis akan disemprotkan ke tanaman
Kondisi 1, Sensor PIR aktif
: Saat seseorang akan memasuki rumah kaca, maka sensor PIR akan mendeteksi
adanya pergerakan seseorang sehingga sensor PIR akan aktif dan kaki Vout akan
memgeluarkan tegangan sebesar 5V lalu diumpankan menuju input X1 multiplexer.
Seperti yang diketahui fungsi dari multiplexer adalah untuk meneruskan beberapa
sinyal yang masuk menjadi 1 sinyal keluaran, yang diatur oleh PIN Select,
dimana pada pin select yang aktif adalah PIN A dan yang mati adalah PIN B.
Berdasarkan tabel kebenaran multiplexer dapat terlihat jika pin A dan B aktif
maka sinyal yang akan diteruskan adalah yang dari input X1 dan Y1. Karena X1
aktif maka akan diteruskan melalui output X sebesar 1.32V. Tegangan tersebut
kemudian diumpankan menuju kaki base transistor, transistor bekerja dengan
fixed bias, terlihat pada rangkaian nilai VBE nya adalah 1.32V maka power dapat
mengalirkan arus ke relay karena syarat nilai VBE adalah besar dari 0.7V.
karena arus mengalir pada relay, maka relay akan berpindah posisi dan arus mengalir
pada baterai dan motor bergerak. Pada rangkaian ini motor berperan sebagai
pintu otomatis yang terbuka.
Kondisi 2, Sensor Touch Aktif
: Saat seseorang akan memasuki rumah kaca, pintu terbuka, dan ingin
menyemprotkan pupuk cair, maka kita dapat menekan sensor touch sehingga sensor
touch akan aktif dan kaki Vout akan memgeluarkan tegangan sebesar 5V lalu
diumpankan menuju input Y1 multiplexer. Seperti yang diketahui fungsi dari
multiplexer adalah untuk meneruskan beberapa sinyal yang masuk menjadi 1 sinyal
keluaran, yang diatur oleh PIN Select, dimana pada pin select yang aktif adalah
PIN A dan yang mati adalah PIN B. Berdasarkan tabel kebenaran multiplexer dapat
terlihat jika pin A dan B aktif maka sinyal yang akan diteruskan adalah yang
dari input X1 dan Y1. Karena Y1 aktif maka akan diteruskan melalui output Y
sebesar 4.85V. Tegangan tersebut kemudian diumpankan menuju R3, lalu diumpankan
menuju kaki base transistor, transistor bekerja dengan self bias, terlihat pada
rangkaian nilai VBE nya adalah 0.78V maka power dapat mengalirkan arus ke relay
karena syarat nilai VBE adalah besar dari 0.7V. karena arus mengalir pada
relay, maka relay akan berpindah posisi dan arus mengalir pada baterai dan
motor bergerak. Pada rangkaian ini motor berperan sebagai sprayer otomatis
pupuk yang akan menyemprotkan pupuk ke tanaman.
1. Download HTML [disini]
2. Download File Rangkaian [disini]
3. Download Video Rangkaian [disini]
4. Download Datasheet Sensor
- datasheet
Sensor Soil moisture [disini]
- datasheet
Sensor LM35 [disini]
- datasheet
Sensor Vibration [disini]
- datasheet
Sensor Pir [disini]
- datasheet
Sensor HIH 5030 [disini]
- datasheet
Sensor Touch [disini]
5. Download Library Komponen
- library
Sensor Soil moisture [disini]
- library Sensor
Vibration [disini]
- library Sensor
Pir [disini]
- library Sensor
Touch [disini]
6. Download datasheet Relay [disini]
7. Download datasheet Motor [disini]
8. Download datasheet LED [disini]
9. Download datasheet Op Amp [disini]
10. Download datasheet IC
4013 [disini]
11. Download datasheet IC
74247 [disini]
12. Download datasheet
Potensiometer [disini]
13. Download datasheet
Resistor [disini]
Komentar
Posting Komentar